Burasa dan Identitas Budaya Masyarakat Bugis-Makassar pasca Ramadan

Muhammad Saiful Said

Dosen Prodi Pendidikan Bhs Inggris 

Universitas Muhammadiyah Makassar

- EKSISTENSI BURASA MENJELANG HARI RAYA IDUL FITRI 

Burasa adalah salah satu makanan khas suku Bugis-Makassar yang telah menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi masyarakat di Sulawesi Selatan. Burasa terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan kelapa parut dan garam, kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Burasa telah menjadi hidangan wajib pada saat lebaran di Bugis-Makassar dan memiliki nilai historis dan nilai budaya yang penting bagi masyarakat setempat.

Sejarah burasa bermula pada abad ke-16, ketika makanan ini pertama kali dibuat oleh masyarakat Bugis-Makassar. Burasa ini awalnya diciptakan untuk memenuhi kebutuhan para pelaut yang melakukan perjalanan jauh dari rumah. Karena burasa terbuat dari bahan-bahan yang tahan lama dan mudah disimpan, burasa menjadi pilihan yang ideal untuk dibawa dalam perjalanan laut yang jauh. Seiring berjalannya waktu, burasa semakin populer dan menjadi hidangan wajib pada saat lebaran. Burasa menjadi simbol kesederhanaan dan kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan. Burasa biasanya disajikan bersama dengan hidangan favorit lainnya seperti ketupat, opor ayam dan coto.

Gambar: Burasa
Terdapat banyak ragam bentuk dan rasa burasa yang bisa ditemukan. Ada burasa yang dibuat dengan isi kelapa dan gula merah Bentuk burasa pun bervariasi, mulai dari segitiga, persegi, hingga bundar. Burasa juga memiliki peran penting dalam budaya Makassar. Selain menjadi hidangan khas pada saat lebaran, burasa juga menjadi bagian dari upacara adat seperti pernikahan, khitanan, dan acara keagamaan lainnya, burasa bukan hanya sekadar hidangan lezat, tetapi juga memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi bagi masyarakat Bugis-Makassar. Sebagai makanan tradisional yang telah bertahan selama ratusan tahun, burasa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sulawesi Selatan.

-KONSEP SOLIDARITAS 

Teori solidaritas mekanik adalah konsep solidaritas yang terjadi pada masyarakat yang homogen dan memiliki nilai-nilai yang sama. Solidaritas ini terjadi karena individu-individu dalam masyarakat memiliki kesamaan dalam kepercayaan, nilai, dan norma yang dianut. Dalam konteks suku Makassar makanan burasa menjadi simbol kebersamaan dan kerjasama antar anggota masyarakat karena makanan ini dianggap sebagai warisan budaya yang diwariskan dari nenek moyang mereka.

Teori solidaritas organik adalah konsep solidaritas yang terjadi pada masyarakat yang kompleks dan heterogen. Solidaritas ini terjadi karena individu-individu dalam masyarakat saling membutuhkan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan bersama. Dalam konteks makanan burasa, proses pembuatan makanan ini melibatkan sanak keluarga, tetangga dll. Proses ini menciptakan jalinan kerja sama dan solidaritas organik antar anggota masyarakat yang terlibat.

-REPRESENTASI KASIH SAYANG

Menurut teori attachment oleh John Bowlby, ikatan emosional yang kuat antara anak dan orang tua merupakan hal yang penting dalam perkembangan emosional dan sosial anak. Attachment terbentuk melalui pengalaman interaksi antara anak dan orang tua pada awal kehidupan. Jika interaksi tersebut positif dan responsif, maka anak akan merasa aman, terlindungi, dan nyaman. Sebaliknya, jika interaksi tersebut negatif atau tidak responsif, maka anak akan merasa tidak aman dan tidak nyaman.

Attachment terdiri dari tiga jenis, yaitu secure attachment, insecure attachment, dan disorganized attachment. Secure attachment terjadi ketika anak merasa aman dan nyaman ketika berada dekat dengan orang tua, dan merasa yakin bahwa orang tua akan selalu ada untuk mendukung dan melindungi dirinya. Insecure attachment terjadi ketika anak merasa tidak aman atau khawatir ketika berada dekat dengan orang tua, dan tidak yakin bahwa orang tua akan selalu ada untuk mendukung dan melindungi dirinya. Disorganized attachment terjadi ketika anak merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi ketika berada dekat dengan orang tua. Untuk membangun ikatan emosional yang kuat dengan keluarga, terutama anak-anak, diperlukan interaksi yang positif dan responsif antara orang tua dan anak. Orang tua harus memberikan perhatian, kasih sayang, dukungan, dan perlindungan yang cukup kepada anak. 

Orang tua juga harus memberikan pengasuhan yang konsisten dan memberikan batasan-batasan yang jelas kepada anak. Hal ini akan membantu anak merasa aman, terlindungi, dan nyaman ketika berada di lingkungan keluarga. Selain itu, orang tua juga perlu memahami karakteristik dan kebutuhan anaknya, serta mampu berkomunikasi dengan baik dengan anak. Komunikasi yang terbuka dan positif akan memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak, serta membantu anak mengembangkan kemampuan sosial dan emosionalnya. Dengan demikian di hari raya idul Fitri ini adalah salah satu wadah untuk merealisasikan narasi di atas Hal ini memperkuat hubungan antara sesama dalam mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kasih sayang khususnya pada keluarga.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Burasa dan Identitas Budaya Masyarakat Bugis-Makassar pasca Ramadan"

Posting Komentar