Shintoisme dan Islam di Jepang: Bagaimana Orang Jepang Percaya Pada islam?
Ari Reski Sashari
Ketika menilik sejarah muslim di Jepang berawal dari abad ke-19 perkembangan muslim Jepang menonjol di Asia Timur tidak dapat di pungkiri bahwa pengaruh Shintoisme dalam proses masuknya orang-orang jepang menganut agama Islam sangat signifikan. Pada tahap awal konversi sebelum perang dunia II umat Islam Jepang mencoba menyinkronkan Shintoisme dan Islam. Adagium Prof. Dr. Toshihiko Izutzu pertama kali bertemu Islam di Jepang antar perang. Seperti yang dia akui bahwa dia tertarik pada ide-ide dan filosofi Timur dalam karir akademiknya. Dia mengatakan bahwa pada usia tujuh puluh tahun, dia menemukan titik kulminasinya di Timur. Menurutnya wajar saja bagi para intelektual Jepang pada periode antar perang untuk terpesona oleh Islam karena kontrasnya dengan agama dan gagasan Timur. Diantara para cendekiawan beberapa menjadi percaya pada Islam tetapi tetap mempertahankan keyakinan mereka pada Shintoisme. Fenomena ini mirip dengan Muslim Tionghoa, yang mendirikan Kai- ju atau Hui-ru, secara harfiah berarti "Konfusianisme Islam". Dapat dikatakan bahwa masyarakat Asia Timur mengembangkan minat dan keyakinan terhadap Islam yang selaras dengan agama dan pemikiran asli mereka, seperti Buddhisme, Shintoisme, Konghucu, Taoisme, dan sebagainya. Dengan kata lain, orang-orang Asia Timur terpesona oleh Islam sambil mempertahankan keyakinan kuat mereka pada agama dan gagasan asli mereka.
Dalam studi sebelumnya tentang ideologi Pan-Asianisme Jepang, diantara umat Islam pada periode antar perang dan Perang Dunia II, semua Muslim Jepang disebut sebagai Muslim gadungan yang masuk Islam dengan maksud untuk memanfaatkan umat Islam untuk kepentingan Jepang. Pemerintah Jepang berkomitmen untuk menciptakan Muslim Jepang gadungan ini. Banyak agen militer Jepang masuk Islam untuk ideologi mereka di kalangan Muslim di Asia Timur dan Tenggara. Ada juga beberapa orang Jepang para cendekiawan dan aktivis, seperti disebutkan sebelumnya, yang menjadi Muslim atas kemauan mereka sendiri Jika kita menganalisa perihal sejarah umat Muslim Jepang, maka penting untuk dijelaskan bagaimana mereka sampai percaya pada Islam dan pemahaman mereka tentang keharmonisan k e t e r k a i t a n antara Shintoisme dan Islam.
Munculnya Islam di Jepang
Dimulai pada abad 17-19 ketika pemerintah Keshogunan Tokugawa yang secara ketat melarang orang asing datang ke Jepang dan orang Jepang pergi ke luar negeri, karena kebijakan ini orang-orang Islam tidak dapat terlihat jejaknya. Kemudian karena mendapat tekanan dari Amerika Serikat kebijakan ini akhirnya di berhentikan. Setelah Restorasi Meiji pada tahun 1868, pemerintahan baru Jepang di bawah Mikado, atau Tennô (Kaisar), memfasilitasi perbaikan hubungan dengan negara asing. Kebijakan positif pemerintah baru ini memungkinkan orang asing masuk ke Jepang dan orang Jepang di perbolehkan bepergian ke luar negeri. Akibat perubahan keadaan yang drastis ini, sebagian muslim asing memasuki Jepang dan beberapa orang Jepang bertemu dengan Muslim
Terdapat beberapa catatan jejak tentang kunjungan beberapa pendeta Buddha ke Istanbul dalam rangka mempelajari Islam dan mengenal umat Islam. Sebaliknya, umat Islam dari luar seperti para pedagang India mulai merambah ke Jepang. Meskipun demikian, belum ditemukan bukti yang mengindikasikan adanya gerakan dakwah besar-besaran di Jepang yang bertujuan untuk mengubah penduduknya menjadi Muslim. Meski begitu, dari sumber-sumber di kalangan Muslim Jepang, ditemukan bahwa Shotaro Noda adalah Muslim Jepang pertama. Ia memeluk Islam selama dua tahun selama tinggal di Istanbul pada tahun 1891. Namun, ketika ia pulang ke Jepang pada tahun 1893, ia meninggalkan gaya hidup Islami yang dianutnya. Pada masa kemudian, ia dianggap sebagai "Muslim gadungan."
Sebagai muslim Jepang kedua, kemudian muncul kasus dua perwira militer Jepang, yaitu Takeyoshi Ohara dan Mitsutarô Yamaoka (1880–1959). Pada masa Perang Rusia-Jepang (1904–05), Ohara bertugas sebagai kapten di bawah komando Mayor Jenderal Yasumasa Fukushima (1852–1919), yang dikenal karena aktivitas intelijen militernya di benua Eurasia. Setelah perang berakhir, Ohara memutuskan untuk pensiun dari militer tetapi tetap menjalin hubungan dengan Fukushima sebagai aktivis Gerakan Pan-Asianisme
Setelah Jepang meraih kemenangan yang mengagumkan melawan Rusia pada tahun 1905, banyak Muslim dari luar yang aktif, seperti Muslim India, Muslim Mesir, dan Tatar, berkeinginan memanfaatkan kekuatan Jepang untuk mendukung Gerakan Pan-Islamisme secara global. Pada tahun 1909, Ohara mencoba mengorganisir Gerakan Pan-Asianisme. Ia bertemu dan berkenalan dengan Muslim Tatar bernama Abdürresid Ibrahim (1857–1944), dan akhirnya di hadapan Ibrahim, Ohara memeluk Islam. Ia mengambil nama Abu Bakar, nama khalifah pertama dalam sejarah Islam, sebagai nama Muslimnya. Selanjutnya, Ohara memperkenalkan orang Jepang lain kepada Ibrahim yang juga berminat untuk masuk Islam. Salah satu dari mereka adalah Yamaoka, yang sebelumnya bekerja sebagai perwira intelijen militer
Yamaoka pun ikut memeluk Islam di hadapan Ibrahim, dan ia mengambil nama "Umar" sebagai nama Muslimnya, yang merujuk kepada khalifah kedua dalam sejarah Islam. Ia kemudian menjalankan kewajiban haji ke Mekkah atas dorongan dari Ohara. Namun, baik Ohara maupun Yamaoka dikritik sebagai "Muslim gadungan," yang memanfaatkan identitas Muslim untuk mendukung Gerakan Asia Besar di bawah semangat nasionalisme Jepang. Di kalangan Muslim Jepang lainnya, Nur Muhammad Ippei Tanaka (1882–1934) memberikan pemahaman uniknya tentang Islam dan bagaimana ia menggabungkan ajaran Shintoisme dan Islam secara kreatif.
Nur Muhammad Ippei Tanaka Perjumpaan dengan Islam
Nur Muhammad Ippei Tanaka dilahirkan dalam keluarga yang mengikuti aliran Rinzai Zen dan juga memiliki pemahaman tentang Shintoisme Misogikyo, termasuk wudhu Shintoisme, saat masih kecil. Di Jepang, terdapat fenomena Shibutsu Shugo yang secara harfiah menggambarkan sinkretisme antara Shintoisme dan Buddhisme. Ketika Buddhisme diperkenalkan ke Jepang dari Tiongkok pada abad keenam, orang Jepang tidak menggantikan Shintoisme lama, melainkan mencoba untuk menyatukan kedua kepercayaan tersebut, menganggap keduanya memiliki kebenaran masing-masing.
Selama tahap awal Restorasi Meiji pada tahun 1868 di bawah kepemimpinan Kaisar Jepang Mikado, terjadi Gerakan Haibutsu Kishaku, yang secara harfiah berarti "menghapus agama Buddha dan menghancurkan patung Shakayamuni". Namun, semangat ini mereda dengan cepat, dan orang Jepang memulihkan praktik sinkretisme Shinbutsu Shugo yang telah ada sebelumnya. Pemerintahan Meiji berupaya untuk memisahkan Shintoisme (penghormatan terhadap Dewa) dari Buddhisme Shakyamuni untuk mempromosikan pengakuan terhadap agama baru. Namun, upaya ini juga tidak berhasil di bawah pemerintahan Mikado. Orang Jepang terus menghormati Mikado dan Shintoisme, dan beberapa di antara mereka memadukan elemen-elemen dari kedua bentuk penghormatan agama ini. Bagi Tanaka, menguasai secara bersamaan Rinzai Zen Buddhisme dan Shintoisme Misogikyo bukanlah hal yang mudah. Kemungkinan, pengalaman spiritual masa kecilnya memengaruhi keputusannya untuk mempelajari Islam dan kemudian menggabungkan unsur-unsur sinkretisme Islam dengan Shintoisme.
Pada tahun1900 Tanaka masuk Universitas Takushoko di Tokyo untuk mempelajari bahasa Cina dan Konfusianisme, ketika perang Rusia dan Jepang pada tahun 1904 Tanaka pergi ke Cina sebagai penerjemah, dia tetap tinggal di Cina setelah perang untuk mempelajari Konfusianisme Islam atau (Kai –Ju) sehingga dia juga tertarik pada cendekiawan Muslim China. Liu Zhi dilahirkan dalam keluarga Muslim Tionghoa dan telah mempelajari Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme di masa kecilnya. Dibawah pengaruh karyanya, Tanaka menerjemahkan salah satu karya Liu Zhi menafsirkan karyanya, Tianfang Zhisheng Shilu, “Catatan Nyata Nabi Terakhir Islam” sebuah biografi Muhammad, ke dalam bahasa Jepang. Ia memahami Islam dalam konteks Kai-ju atau Hui-ru. Ia mengenal Islam bukan melalui konteks aslinya yang murni, melainkan melalui Sinkretismenya dengan Konghucu. Ia dapat dengan mudah menerima gagasan sinkretisme antara dua agama lain sebagai akibat dari situasi keagamaan di Jepang. Melalui berbagai artikel yang diterbitkan, Tanaka kemudian diperkenalkan di Jepang pengetahuan tentang Muslim Cina.
Ketika Islam menyebar ke Cina, berbeda dari daerah lainnya, terjadi fenomena sinkretisasi dengan Konfusianisme. Masyarakat Tionghoa mengakui bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara ajaran Muhammad dengan ajaran Konfusius dan Mencius. Keyakinan kuno di Tiongkok mirip dengan keyakinan kuno di wilayah Arab. Inilah yang mendorong beberapa intelektual Tionghoa untuk memeluk Islam. Sekitar tiga ratus juta orang di seluruh dunia mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim dan mengikuti agama Islam. Namun, di antara mereka, hanya Muslim Tionghoa yang dikenal dengan sebutan Kai-kais (atau Hui-huis), dan agama yang mereka anut dikenal sebagai Kai kyô (atau Hui-kyô) atau Seishin-kyô (yang berarti "kebenaran murni").
Meskipun Islam cenderung sulit untuk disatukan dan diselaraskan dengan agama lain, kasus ini mengindikasikan kemungkinan adanya sinkretisasi antara Islam dan sistem kepercayaan Konfusianisme di Tiongkok. Dengan pendekatan ini, Tanaka mulai menerbitkan sejumlah artikel mengenai isu-isu kontemporer dan agama di majalah-majalah populer Jepang. Ia kemudian menjadi seorang penulis di media Jepang selama periode antar perang. Lambat laun, namanya menjadi terkenal di kalangan penganut agama populer maupun di dalam masyarakat yang mendukung gerakan Pan-Asianisme.
Masuk Islam
Pada tahun 1924, setelah menyelesaikan terjemahan bahasa Jepang Tianfang Zhisheng Shilu Tanaka melakukan perjalanan ke Tiongkok dengan tujuan memeluk Islam. Ia terpesona oleh Islam melalui karya-karya Liu Zhi. Pada bulan Januari 1924, ia mengunjungi Masjid Tionghoa di provinsi Shandong dan meminta bimbingan Aheng, (seorang tokoh agama di Shandong) dalam konversi ke Islam. Dengan demikian, ia menjadi seorang Muslim dan diberi nama Muslim: Nur Muhammad. Selanjutnya, ia memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji ke Mekkah sebagai anggota kelompok jamaah haji dari Tiongkok.
Sebelum sampai di Mekkah, Tanaka menjalani puasa selama satu bulan, dari tanggal 6 April hingga 5 Mei. Meskipun umat Islam diizinkan untuk tidak berpuasa selama perjalanan, kelompok jamaah haji dari China tetap memilih untuk berpuasa. Ini merupakan pengalaman pertama Tanaka dalam berpuasa, dan pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam padanya. Pengalaman religius dari puasa ini mengilhaminya untuk mempertimbangkan kemiripan antara Shintoisme dan Buddhisme Zen. Sebagai penganut Shintoisme, Tanaka menganggap pendakian Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang, sebagai praktik keagamaan yang penting. Pengalaman spiritual dari puasa ini memberi Tanaka inspirasi untuk melihat persamaan antara Shintoisme dan Islam
Pengalaman ziarah ke Mekkah dan pendakian Gunung Fuji memberikan Tanaka pemahaman tentang kemungkinan sinkretisme antara Shintoisme dan Islam. Tanaka mengungkapkan pemikirannya tentang gagasan sinkretisme ini selama melaksanakan ibadah haji ke Mekkah, "Saya menemukan hubungan antara Konfusianisme dan Islam serta hubungan antara Konfusianisme dan Buddhisme Zen. Sebagai hasilnya, saya menemukan hubungan antara Islam dan Shintoisme.
Sinkretisme Shintoisme dan Islam
Meskipu Tanaka masuk Islam, dia tidak melepaskan Shintoisme dan Buddhisme setelah dia kembali ke Jepang. Dia terus berlatih doa di kedua agama. Pertobatannya ke Islam tidak berarti meninggalkan agama sebelumnya. Dari tradisi Jepang Shinbutsu Shugo (Sinkretisme Shintoisme dan Buddhisme) dan tradisi Cina Kai-ju atau Hui-ru (Konfusianisme Islam), jelas bagi Tanaka bahwa Shintoisme dan Islam serta Buddhisme dapat hidup bersama.
Tanaka berkata bahwa ketika dia membandingkan Kristen dan Islam, dia harus mengakuinya bahwa Islam sangat mirip dengan Konfusianisme dan Shintoisme kuno. Dia kemudian mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, bahwa Islam harus sinkron dengan Konfusianisme dan Shintoisme bagi orang Jepang untuk menghidupkan kembali Asia. Setelah dia kembali ke Jepang dari Mekkah, dia mengungkapkan gagasan ini sinkretisme melalui berbagai media. Dibandingkan dengan Kristen, Islam lebih mirip dengan Konfusianisme dan Shintoisme lama kita. Maka agama Islam harus sinkret dengan bangsa Jepang dalam gerakan kebangkitan Asia.
Lebih jauh lagi, kesannya tentang kesamaan antara Shintoisme dan Islam diperkuat dengan ziarahnya ke Mekkah. Pada tahap terakhir dari proses sinkretisme ini, Tanaka mendirikan Go-ichi Kai, secara harfiah Lima Satu Masyarakat, pada tahun 1933. Lima mengacu pada lima agama: Konfusianisme, Budha, Taoisme, Kristen, dan Islam; satu mengacu pada Shintoisme. Tujuan masyarakat ini adalah untuk mensinkronkan lima agama dengan Shintoisme. Tanaka mengungkapkan gagasan di balik masyarakat ini dalam deklarasi Go ichi Kai, diterbitkan di majalah Dainichi, sebagai berikut:
"Tidak ada batasan dalam cara; kurangnya batas menunjukkan adanya jalan"
Di negara-negara Timur, seni bela diri, gagasan spiritual, dan agama dipertimbangkan menjadi "jalan". Penggunaan kata “jalan” secara kiasan menunjukkan bahwa tidak ada batasan dalam mensinkronkan Shintoisme (jalan Kami) dengan Islam. Menurut doktrin asli Islam, tidak mungkin bagi Islam untuk hidup berdampingan dengan ide inti Jepang kami. Ungkapan ini patut diperhatikan. Meskipun sinkretisme Shintoisme dan Islam tidak disangkal secara langsung, Tanaka melihat bahwa sinkretisme ini tidak sesuai dengan ajaran Islam yang asli. Penyimpangan ini, bagaimanapun, tidak menyebabkan dia menyerah pada gagasan sinkretisme Shintoisme dan Islam. Dia mencari dasar untuk idenya di Cina. Ketika Islam masuk ke China, Islam berkembang sebagai “Mahayana Islam.”
Islam di Cina, Kai-ju atau Hui-ru (Konfusianisme Islam), menyerupai Buddhisme Mahayana. Dia menyadari bahwa orang-orang Tionghoa mempercayai Islam dengan menyelaraskannya dengan agama-agama sebelumnya. Dia menyebut Islam Cina sebagai Islam Mahayana, atau Islam Kendaraan Besar. Ia berkesimpulan bahwa jika Islam dapat mengadopsi ciri-ciri Buddhisme Mahayana, maka dimungkinkan untuk mensinkronkan Shinto dan Islam. Dia percaya bahwa ide dasar Islam sesuai dengan orang Jepang. Tanaka tidak bermaksud melakukan sinkretisme sederhana dari kedua agama tersebut, melainkan penyerapan Islam oleh Shintoisme. Dia ingin membubarkan Islam dan empat agama lainnya ke dalam Shintoisme. Ini sebenarnya bid'ah terhadap Islam. Tanaka mengakui itu miliknya. Idenya sesat bagi Islam ortodoks yang asli, tetapi dia tidak dapat meninggalkan Shintoisme.
Sinkretisme Pan-Asianisme dan Islam
Tanaka menyetujui Pan-Asianisme. Sesuai dengan kepercayaannya pada Shintoisme, dia sangat menghormati Mikado. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya Go- ichi Kai. Meskipun masuk Islam, ia bermaksud menyerap gagasan Islam ke dalam Shintoisme. Dia terus percaya Shintoisme dan tidak berpikir untuk meninggalkan Shintoisme setelah ia menjadi seorang Muslim. Meskipun mudah bagi Shintoisme dan Islam untuk hidup berdampingan dalam keyakinan Tanaka, Shintoisme menempati peringkat lebih tinggi daripada Islam, dan dia tetap menghormati Mikado. Setelah Restorasi Meiji pada tahun 1868 Mikado adalah kaisar negara dan Tuhan saat ini, menurut Shintoisme. Di sisi lain, Tanaka mengkritik Gerakan Pan-Asianisme di bawah kepemimpinan dari “Muslim Jepang gadungan” tersebut, yang didukung oleh militer Jepang.
Tanaka percaya bahwa Jepang harus mengambil sikap positif untuk menghidupkan kembali negara-negara Asia di bawah Mikado. Meskipun dia mengkritik "Muslim palsu" dari pemerintah dan tentara Jepang, dia percaya bahwa semua negara Asia dapat diselamatkan oleh Pan-Asianisme di bawah Mikado. Dapat dikatakan bahwa dia mendorong sinkretisme Pan-Asianisme dan Islam sesuai dengan sinkretismenya sendiri tentang Shintoisme dan Islam. Pada titik ini, Tanaka sebagai seorang Muslim swasta yang populer mendukung Pan-Asianisme, yang disambut baik oleh pemerintah Jepang. Menurut Tanaka, Islam tidak bertentangan dengan Shintoisme atau Pan-Asianisme. Ini mirip dengan ide-ide dari “Muslim Jepang gadungan”, yang didukung oleh tentara dan pemerintah Jepang Tanaka, tidak pernah mempertimbangkan untuk memanfaatkan Islam untuk kepentingan nasional Jepang. Dia serius untuk menghidupkan kembali semua negara Asia demi kepentingan publik, berdasarkan sinkretismenya sendiri antara Shintoisme dan Islam. Tanaka akhirnya memutuskan untuk mempromosikan sinkretisme Pan-Asianisme dan Islam. Ide ini disambut baik oleh tentara dan pemerintah Jepang. Seperti disebutkan sebelumnya, Tanaka mengkritik salah satu kegiatan intelijen dari "Muslim Jepang gadungan" Dia tidak bekerja sama dengan mereka bahkan ketika mereka mencoba mendekatinya. Dikatakan bahwa dia tertekan oleh situasi dan fakta bahwa Go-ichi Kai Society tetap stagnan.
Pada tahun 1934, Tanaka melanjutkan dengan ziarah keduanya ke Mekkah. Ia menjadi Muslim Jepang pertama yang melakukan perjalanan ke Mekkah dua kali. Kali ini, perjalanan ziarahnya tidak hanya mencakup Mekkah, melainkan juga melibatkan kunjungan ke Afganistan dan beberapa negara di Afrika. Meskipun perjalanan ziarah yang padat memberinya kebahagiaan dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai beragamnya dunia, jadwal yang padat tersebut merusak kesehatannya. Sayangnya, Tanaka meninggal tidak lama setelah ia kembali ke Jepang.
Setelah kematiannya yang tiba-tiba, Masyarakat Go-ichi Kai yang didirikannya mengalami kepunahan. Tanaka tidak berhasil meyakinkan masyarakat Jepang pasca-perang untuk mengadopsi pandangannya tentang Islam.
NEXT AKAN MEMBAHAS TENTANG: Ahmad Bunpachiro Ariga Perjumpaannya Dengan Islam
Setelah kematian Muhammad Ippei Tanaka yang mencoba untuk menyingkronkan Shintoisme dengan Islam, kemudian muncul Ahmad Bunpachiro Ariga (1868–1946) yang juga bermaksud untuk menyinkronkan Shintoisme dengan Islam dengan pemahaman yang berbeda dari Tanaka. Ariga memiliki karir yang unik sebelum ia menjadi seorang Muslim untuk menyebarkan Islam Jepang melalui kegiatan dakwahnya. Di masa kecilnya, setelah Restorasi Meiji, dia mengalami Gerakan Haibutsu Kishaku (menghapus) agama Buddha dan menghancurkan Shakyamuni.

0 Response to "Shintoisme dan Islam di Jepang: Bagaimana Orang Jepang Percaya Pada islam?"
Posting Komentar